Review: The Miraculous Jourbey of Edward Tulane


Buku….. Benda inilah yang menjadi favorit aku dari waktu ke waktu. Beneran, kalo aku udah baca buku, rasanya seperti berada di alam lain….hehehehehehe, jangan salah kira ke alam lain itu mabok atau kayak kesurupan gitu lohhh.. Tapi kayaknya aku tuh ikut masuk ke dalam cerita yang ada di dalam buku itu. Eits berarti jenis buku yang aku suka tuh jenis novel. Bukan buku pelajaran lo…Beneran, kalo aku lagi bete dan banyak pikiran, udah deh dikasih buku aja. Biasanya sih untuk sejenak agak terlupakan deh masalah-masalah yang ruwet itu. Tapi ini harus berupa buku lo..bukan majalah. Kalo majalah sih nggak mempan ;-p

Akhir-akhir ini aku jarang banget baca buku. Makanya kayaknya pengen banget ke toko buku dan disana seharian baca. Wah pasti nikmat bangettt deehh... Pengennya sih ke Gramedia PIM atau ke Kinokuniya PS. Dulu aku ingeeett banget, kalo liburan sekolah, selalu pengennya ke Gramedia Matraman. Soalnya yang paling lengkap dan gede di situ. Nah biasanya disitu aku di drop sama papaku, trus ditinggal sampai jam 2 atau jam 3 sore. Trus dijemput deh... Segitu tergila-gilanya sama buku hehehehehhee

Nah berhubung udah lama banget nggak baca buku, aku kali ini mau review buku karangannya Kate DiCamillo yang berjudul The Miraculous Journey of Edward Tulane. Dulu beli buku ini di pameran buku di Gedung Gramedia Jalan Panjang bulan Desember kemarin. Ini buku aku beli karena menurut mbak-mbak Gramednya bagus isinya. Aku liat sih emang buku anak-anak dan gambarnya bagussss. Berhubung buku ini lagi diskon, ya aku beli aja.

Ternyata isinya nggak sesimpel yang aku kira. Dan menurutku buku ini cukup berat untuk anak-anak. Walaupun bisa aja diceritain orang tua ke anak-anak dengan cara yang simpel, tapi buku ini bener2 menguras emosi.

Jadi, once, hiduplah seorang boneka kelinci yang terbuat dari porselen bernama Edward Tulane. Kelinci tersebut amat sangat bangga dengan dirinya sendiri dan alasan utamanya adalah ia dimiliki oleh seorang gadis kecil bernama Abilene yang amat sayang dan mengagumi Edward. Sampai pada suatu hari Edward hilang.
Nah dari sinilah cerita bergulir. Pengarangnya mengajak kita mengikuti petualangan Mr. Edward dari kedalaman lautan ke jaring-jaring sang nelayan, dari tempat sampah sampai ke api unggun yang dinyalakan pengelana, dari tempat tidur bersama anak perempuan yang sakit keras sampai di toko boneka di jalan yang ramai. Dan sepanjang perjalanan Mr. Edward kita diajak merenungkan kembali arti kasih sayang terhadap orang yang kita cintai. Bahkan hati sekeras apapun dapat belajar bagaimana rasanya mencintai seseorang, merasakan rasanya kehilangan dan kembali merasakan mencintai seseorang.

Seperti testimoni dari Katherine Paterson, wartawan di Publisher Weekly,
“But a story for today about a toy rabbit? Okay, I thought, Kate DiCamillo can make me cry for a motherless child and a mongrel stray. She can wring my heart following the trials of two lonely children and a caged tiger, and bring tears to my eyes for a brave little lovesick mouse, but why should I care what happens to an arrogant, over-dressed china rabbit? But I did care, desperately, and I think I can safely predict you will, too."

Ya, tepat seperti yang dikatakan oleh Katherine, saat membaca buku itu sungguh aku tak menyangka bahwa buku yang menceritakan boneka kelinci porselen tersebut bisa membuat aku menangis. But I really did….!!! Dan aku yakin anda yang membacanya akan melakukan hal yang sama.
Review: The Miraculous Jourbey of Edward Tulane Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Dini

No comments: