Laskar pelangi


Sudah lama aku mendengar fenomena novel karangan Andrea Hirata yang berjudul Laskar Pelangi yang dinilai oleh para pengamat buku sangat menggugah dan tidak biasa. Sejak akhir tahun 2006 yang lalu, di milis2 buku yang aku ikuti semuanya memuji buku ini. Tapi aku sendiri belum merasa tertarik untuk membeli dan membaca buku ini. Entah kenapa aku masih menyangsikan kekuatan buku yang disebut2 sebagai Indonesia’s Most Powerful Book ini.

Tapi akhirnya aku berkesempatan membaca buku ini setelah mengunjungi Pameran Buku IKAPI di JCC minggu kemarin. Karena penasaran, aku pun langsung membaca buku ini dengan antusias. Dan ternyata belum sampai separuh buku kubaca, aku sangat takjub oleh kepiawaian Andrea mengolah kata yang menjadikan buku ini mengalir dengan lancar. Kalimat-kalimat yang indah berpadu dengan istilah-istilah Sains dalam Fisika, Kimia, Biologi dan Astronomi membuat aku tidak bisa berpaling sejenak. Gaya bahasanya yang bertabur majas metafora dan perumpamaan sungguh tidak biasa namun tetap enak untuk dinikmati.
Seperti sepenggal kalimat di bab ‘Langit Ketujuh' ini:
“Lintang dengan segala daya tarik kecerdasannya adalah gemerincing tamborin yang nakal, bernada miring, dalam alunan stambul gaya lama. Dialah mantra dalam rima-rima gurindam yang itu-itu saja. Dia ikan lele yang menggeliat dalam timbunan lumpur beku sekolah kami yang telah bosan dihina. Tubuhnya yang kurus menjadi siku-siku yang menegakkan kembali tiang utama perguruan Muhammadiyah yang bahkan belum tentu tahun depan mendapatkan murid baru.”


Andrea juga sangat piawai mendeskripsikan apapun dengan sangat detil dengan bahasa yang bisa membuat kita berimajinasi sampai ke suatu tempat yang tak terbatas. Seperti di bab ‘Ada Cinta di Toko Kelontong Bobrok Itu’,

“Saat itu aku merasa jarum detik seluruh jam yang ada di dunia ini berhenti berdetak. Semua gerakan alam tersentak diam dipotret Tuhan dengan kamera raksasa dari langit, blitz-nya membutakan, flash!!! Menyilaukan dan membekukan. Aku terpana dan merasa seperti melayang, mati suri, dan mau pingsan dalam ekstase. Aku tahu A Miauw pasti sedang berteriak-teriak tapi aku tak mendengar sepatah kata pun dan aku tahu persis bau busuk toko itu semakin menjadi-jadi dalam udara pengap di bawah atap seng, tapi pancaindraku telah mati. Aliran darah di sekujur tubuhku menjadi dingin, jantungku berhenti berdetak sebentar, kemudian berdegup kencang sekali dengan ritme yang kacau seperti kode morse yang meletup-letupkan pesan SOS. Lebih dari itu aku menduga bahwa dia, si misterius berkuku seindah pelangi, yang tertegun seperti patung persis di depan hidungku ini, agaknya juga dilanda perasaan yang sama.”

Istilah-istilah sains yang menghiasi sebagian besar buku ini menandakan juga bahwa Andrea adalah seorang yang sangat mencintai sastra sekaligus mempunyai minat yang sangat besar terhadap dunia sains.
“Newton mengatakan , kecuali Bapak ingin nyangkal manuskrip ilmiah yang tak terbantahkan selama 500 tahun hasil karya ilmuwan yang disebut Michael Hart sebagai manusia paling hebat setelah Nabi Muhammad SAW, bahwa tebal tipisnya partikel transparan menentukan warna yang yang ia pantulkan. Itulah persamaan ketebalan lapisan udara antara optik sebagai dasar dalil warna cincin. Semua itu hanya bisa diobservasi melalui optik, bagaimana Bapak bisa mengatakan perkara-perkara ini tidak saling berhubungan?”

Ah, membaca Laskar Pelangi membuat aku merasa bersyukur yang amat sangat bahwa aku diberikan kesempatan mengenyam pendidikan dengan layak. Tapi aku juga sungguh miris di belahan Indonesia lain banyak sekali anak2 yang tidak memperoleh kesempatan untuk bersekolah. Kalaupun mereka bisa bersekolah, kadang harus menempuh jarak sekolah yang amat jauh….bisa berkilo-kilo meter pulang pergi dengan jalan kaki. Bahkan harus menempuh bahaya yang besar…. Padahal siapa tahu di antara anak-anak itu ada banyak genius, mutiara yang belum terasah, yang nantinya akan mengharumkan nama Indonesia.

Buku yang dilansir merupakan pengalaman pribadi dari Andrea Hirata sendiri juga membuka mataku bahwa Indonesia ini sangatlah kaya, tapi kekayaan kita itu tidak bisa dinikmati oleh semua orang, bahkan oleh penduduk dimana kekayaan itu berada. Miris memang… tapi memang itulah yang terjadi.


Tapi buku ini memang layak untuk dibaca. Sebuah karya sastra bergaya saintifik dengan penyampaian yang cerdas dan menyentuh ini memang layak untuk disebut sebagai Indonesia’s Most Powerful Book.

PS: Udah gak sabar membaca lanjutan tetralogi Laskar Pelangi ini yang berjudul 'Sang Pemimpi', 'Edensor' dan 'Maryanah Karpov' :-)

Laskar pelangi Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Dini

4 comments:

ade said...

Dini itu kalao membaca novel bener2 bisa menyelami yah. Kata demi kata bener2 dihayati. Sepertinya novel yang bagus menurut dini tidak hanya dilihat dari jalan ceritanya tp juga dilihat dari kata2 yg ditulis oleh penulis, apakah penulis mampu membuat suasana hidup sehingga seolah-olah kita berada dalam cerita.

Klo gini kayaknya novel yg ak bilang kurang bagus itu dini suka deh, karena pemilihan katanya cukup bagus dan bernilai...

Nico Wijaya said...

emang bagus, saya bacanya minjem dari tetangga. tapi banyak nama latin, yang mesti repot bolaki-balik halaman belakang ngliat penjelesannya.

Dini said...

Ade: Iyah...emang selain cerita, rangkaian kata2 dan alur yang mengalir lancar juga mempengaruhi sebuah novel :-)

Nico : emang tuh banyak istilah2.... baru kali ini aku tau istilah Agonistik.... :-)
Udah baca yang lanjutannya?

ade said...

Din, ak tambahin commentnya yah..
Akhirnya selesai jg baca bukunya.
Ceritanya menarik banget diawali dengan cerita 10 orang berbeda yang sekolah di kampung (klo ga 10 maka sekolah mereka bubar...kasihan sekali yah..). baru ngerti dinamakan laskar pelangi setelah tahu karakter 10 anak yang berbeda-beda. Masing-masing memiliki cerita sendiri dalam buku ini, ada yg jenius kayak einsten tp tinggalnya jauh sekali, ada yg ahli seni, ada yg berbadan besar, dll.

Ada beberapa bumbu cerita yang dimasukkan pengarang, diantaranya ketika mereka berhasil mengalahkan sekolah PN dalam lomba karnaval dan cerdas cermat, pencarian Flo yang hilang, Ikal yang jatuh cinta, Mahar yang terlibat dunia mistis, serta diakhiri dengan keluarnya Lintang dari sekolah karena meninggalnya ayahnya.

Cerita ini semakin terasa nyata ketika diakhir dimunculkan yang namanya takdir Ilahi. PN yang akhirnya bangkrut, Lintang yang jenius tp pada akhirnya tetap menjadi seorang nelayan karena keterbatasannya, Syahdan yang selama sekolah hanya menjadi pelengkap saja akhirnya menjadi seorang direktur di bagian teknik, ada yang menjadi politisi, ada yang masuk rsj, dan si "aku" / ikal yg jd tukang pos.

Pertanyaan terakhir yang timbul setelah baca ini din adalah pergantian tokoh "aku" menjadi seorang syahdan, apakah berarti dibuku selanjutnya titik sentralnya ada di syahdan? kita baca saja buku berikutnya.

Udah dulu yah din..kepanjangan nanti :P (padahal udah ga tahu mau nulis apa lagi). Selamat membaca seri selanjutnya yah..